Sunday, 1 February 2015

berbagi

NILAI PENDIDIKAN ISLAM
Penulis : Imam Prayogo, S.Pd.I
A.    Nilai
1.      Pengertian nilai
Segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini disadari atau tidak, mengandung nilai-nilai yang abstrak seperti cinta, kejujuran, kebajikan, dan lain-lain yang merupakan perwujudan dari bentuk nilai-nilai di dalam dunia budaya manusia.
Dalam bahasa Inggris nilai adalah “value”. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia nilai mempunyai beberapa pengertian yaitu “harga (dalam artian taksiran harga), harga sesuatu (uang misalnya), jika ditukarkan atau di ukur dengan yang lain. Angka potensi, kadar, mutu, sedikit banyaknya isi, dan sifat-sifat (hal-hal) yang berguna bagi manusia.[1]
Menurut Sidi Gazalba sebagaimana dikutip M. Chabib Thoha menyebutkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, sesuatu yang ideal, bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menutut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.[2]
Nilai merupakan realitas abstrak. Nilai dapat dirasakan dalam diri seseorang yang masing-masing sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Karenanya, nilai menduduki tempat penting dalam kehidupan seseorang sampai pada suatu tingkat, di mana sementara orang lebih siap untuk mengorbankan hidup mereka dari pada mengorbankan nilai.
Perlu digaris bawahi bahwa apa yang disebut "nilai" adalah suatu pola normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi- fungsi bagian-bagiannya.[3] Nilai lebih mengutamakan fungsinya memeliharaan pola dari sistem sosial.
Nilai dapat terwujud keluar dalam pola-pola tingkah laku, sikap- sikap dan pola pikir. Nilai-nilai juga ditanamkan pada seorang pribadi dalam suatu proses sosialisasi, melalui sumber-sumber yang berbeda misalnya keluarga, lingkungan,   pendidikan, agama. Dengan mengetahui sumber dan sarana-sarana yang menanamkan nilai-nilai, orang dapat memahami kekuatan nilai-nilai tersebut bertahan pada dirinya. Nilai mempunyai fungsi sebagai standar dan dasar pembentukan konflik dan pembuatan keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan dasar perwujudan diri.
Suatu nilai dapat diterimoleh seseorang  karena nilai itu sesuai dengan kepentingan  dan kebutuhannya,  dalam hubungan  dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan yang memungkinkan seseorang mampu merasakan diri  dalam  konteks hubungannya dengan lingkungannya.
Nilai yang berkaitan dengan pembahasan ini yaitu nilai yang terkait dengan pendidikan Islam yaitu nilai pendidikan yang berdasarkan serta bertujuan sesuai dengan ajaran Islam yang melingkupinya.
2.      Macam-macam Nilai
Macam atau bentuk nilai sangatlah komplek dan sangatlah banyak. Karena pada dasarnya nilai itu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga dari sini terdapat bermacam-macanilai. Dilihat dari sumbernya nilai dapat diklasifikasikan menjadi dua macam,[4] yaitu:
a.       Nilai  Illahiyah  (nash)  yaitu Nilai yang diwahyukan melalui Rasul yang berbentuk iman, takwa, iman adil, yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Nilai ini merupakan nilai yang pertama  dan paling utama bagi para penganutnya dan akhirnya nilai tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini bersifat statis dan kebenarannya mutlak[5] Allah berfirman dalam surat Al- Baqarah ayat 2:
  ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢
(البقرة : ٢)
Artinya:  Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[6]
Nilai-nilai Illahiyah selamanya tidak mengalami perubahan. Nilai Illahiyah ini mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia  selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat, serta tidak berkecendrungan untuk berubah mengikuti selera hawa nafsu manusia dan berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individu.
b.      Nilai Insaniyah, nilai insaniyah merupakan nilai yang diciptakan oleh manusia atas dasar kriteria yang diciptakan oleh manusia pula.[7] Nilai ini tumbuh atas kesepakatan manusia serta berkembang dan hidup dari peradaban manusia. Nilai insani ini kemudian melembaga menjadi tradisi-tradisi yang diwariskan turun-temurun mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Disini peran manusia dalam melakukan kehidupan di dunia ini berperan untuk melakukan perubahan kearah nilai yang lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 53: 
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٥٣
 (الانفال : ۵۳ )
Artinya :  (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Anfal : 53)[8]
Sedangkan nilai dilihat dari segi sifat nilai itu dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a.       Nilai subjektif adalah nilai yang merupakan reaksi subjek dan objek. Hal ini sangat tergantung kepada massing-masing pengalaman subjek tersebut.
b.      Nilai subjektif rasional (logis) yakni nilai-nilai yang merupakan esensi dari objek secara logis yang dapat diketahui melalui akal sehat, seperti nilai kemerdekaan, nilai kesehatan, nilai keselamatan, badan dan jiwa, nilai perdamaian dan sebagainya.
c.       Nilai yang bersifat objektif metafisik yaitu nilai yang ternyata mampu menyusun kenyataan objektif seperti nilai-nilai agama.[9]
3.      Fungsi Nilai
Nilai mempunyai fungsi sebagai standar dan dasar pembentukan konflik dan pembuatan keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan dasar perwujudkan diri.
a.       Nilai sebagai standar. Nilai merupakan patokan (standar) haluan perilaku dalam berbagai cara seperti; dapat mengarahkan untuk mengambil posisi tertentu dalam masalah sosial, mempersiapkan untuk menghadapi pemikiran dan sikap orang lain, membimbing diri sendiri terhadap orang lain, menilai dan menghargai diri sendiri dan orang lain, mempelajari diri sendiri dan orang lain, mengajak dan mempengaruhi nilai orang lain untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik, dan memberikan alasan terhadap tindakan yang dilakukan.
b.      Nilai sebagai dasar penyelesaian konflik dan pembuatan keputusan. Dengan adanya nilai dalam diri seseorang, maka konflik atau pertentangan  yang  ada  dalam diri  sendiri  maupun  orang  lain,  dapat lebih mudah terselasaikan. Di samping itu, pembuatan keputusan dapat dilakukan secara lebih efektif atas dasar nilai yang ada.
c.       Nilai sebagai motivasi. Nilai yang dianut seseorang akan lebih mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang sesuai nilainya. Dengan demikian pemahaman terhadap nilai akan meningkatkan motivasi dalam melakukan suatu tindakan.
d.      Nilai sebagai dasar penyesuaian diri. Dengan pemahaman nilai yang baik orang cenderung akan lebih mampu menyesuaikan diri secara lebih baik. Memahami nilai orang lain dan nilai kehidupan penting artinya bagi seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
e.       Nilai sebagai dasar perwujudan diri. Proses perwujudan diri ini banyak ditentukan dan diarahkan oleh nilai yang ada dalam dirinya.[10]
Menurut Muhammad Surya, nilai yang dianut seseorang akan tercermin dalam tindakan-tindakan yang dipilihnya. Karenanya, nilai pendidikan yang ada pada seseorang akan tercermin pula pada tindakan- tindakannya.[11]
B.     Pendidikan Islam
1.    Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan Islam berasal dari dua kata yaitu “pendidikan” dan kata “Islam”. Pengertian pendidikan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah, proses pengubahan perilaku dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, perbuatan, cara mendidik.[12]
Menurut Jhon Dewey pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional) menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa.[13]
Sedangkan menurut Zuhairini (dalam Moh. Padil danTriyo Supriyatno) pendidikan diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[14]
Selain itu dalam ensiklopedi pendidikan kata pendidikan diartikan dengan luas. Makna pendidikan adalah suatu usaha sadar memfasilitasi orang sebagai pribadi yang utuh sehingga teraktualisasi dan terkembangkan potensinya mencapai taraf pertumbuhan dan perkembangan yang dikehendaki melalui belajar.[15]
Pendidik di sini harus diakui haknya oleh anak didik dan mendapat kepercayaan anak didik untuk mencapai hasil baik dalam usahanya. Dengan demikian pendidik itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas atau kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya guru sekolah, kyai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainya.
Jika pendidikan dikaitkan dengan kata Islam, maka rangkaian perumusannya setidak-tidaknya harus bisa menggambarkan unsur-unsur makna dari rangkaian kata tersebut. Jika tidak demikian akan menjadikan arti pendidikan Islam kurang lengkap.
Ditinjau dari segi bahasa, kata Islam berasal dari bahasa Arab yang memiliki berbagai makna. Secara etimologi, kata Islam berasal dari bahasa Arab salima-yaslimu-salamatan, Islaman, yang artinya tunduk, patuh, beragama Islam.[16] Dari ‘salima’ muncul kata ‘aslama’ yang artinya menyelamatkan, mendamaikan, dan mensejahterakan. Kata ‘aslama’ juga berarti menyerah, tunduk, atau patuh. Dari kata ‘salima’ juga muncul beberapa kata turunan yang lain, di antaranya adalah kata ‘salam’ dan ‘salamah’ artinya keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan penghormatan, ‘taslim’ artinya penyerahan, penerimaan, dan pengakuan, ‘silm’ artinya yang berdamai, damai, ‘salam’ artinya kedamaian, ketenteraman, dan hormat, ‘sullam’ artinya tangga, ‘istislam’ artinya ketundukan, penyerahan diri.[17]
Menurut Abudin Nata Islam adalah patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah dalam upaya mencari keselamatan, dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.[18]
Untuk memahami pengertian pendidikan Islam setidaknya ditawarkan tiga istilah oleh para pemikir Muslim, antara lain; al-tarbiyah, al-ta’lim, al-ta’dib.[19] Istilah-istilah tersebut kalau dilihat teks dan konteksnya mempunyai makna yang berbeda-beda, meskipun dalam hal-hal tertentu mempunyai kemiripan makna.
a.    Al-Tarbiyah
Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb, yang pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.[20] Semua kata tersebut sebenarnya memiliki kesamaan makna, walaupun dalam konteks tertentu mempunyai perbedaan. Dalam term al-tarbiyah ini mengandung empat unsur pendekatan, yaitu (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa. (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.[21]
b.    Al-Ta’lim
Pemilihan kata al-ta’lim dalam pengertian pendidikan , sesuai dengan firman Allah swt. :
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١
  (البقرة: ٣١ )
Artinya: “dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31)[22]

Apabila  dilihat dari batasan pengertian kata al-ta’lim  pada ayat diatas, terlihat pengertian yang dimaksudkan mengandung makna yang terlalu sempit. Pengertian al-ta;lim hanya sebatas transmisi seperangkat nilai antar manusia. Dia hanya dituntut untuk menguasai nilai yang ditransfer secara kognitif dan psikomotorik, akan tetapi tidak dituntut pada domain afektif.[23] Akan tetapi menurut Abdul Fattah Jalal istilah al-ta’lim mempunyai cakupan yang cukup luas dibanding dengan istilah al-tarbiyah yang sebetulnya berlaku hanya untuk anak kecil, yakni proses persiapan dan pengusahaan pada fase pertama pertumbuhan manusia.[24] Sedangkan al-ta’lim secara implisit juga menanamkan sikap afektif, karena pengertian al-ta’lim  juga ditekankan pada perilaku yang baik (akhlaq al-karimah).
c.    Al-Ta’dib
Menurut Sayed Muhammad Naquib al-Attas istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah al-ta’dib, karena istilah al-ta’dib merupakan term yang paling tepat dalam khazanah bahasa arab karena mengandung arti ilmu, kebijaksanaan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-tarbiyah dan al-ta’lim sudah tercakup dalam term al-ta’dib.[25]
Berkaitan dengan itu secara teoritis Muhammad at-Taoumi sebagaimana dikutip Moh. Roqib mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses pengubahan tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan di alam sekitarnya.[26] Begitu juga Muhammad Hamid an-Nashir dan Kulah Abd al-Qadir Darwis mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia (ri’ayah) pada sisi jasmani, akal, bahasa, tingkah laku, dan kehidupan sosial dan keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan.[27]
Dari definisi-definisi pendidikan Islam di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah pembinaan, pengembangan, pemeliharaan terhadap potensi yang ada diri manusia dalam aspek kehidupannya dengan didasari nilai-nilai ajaran Islam, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan dan perbuatan serta tercapainya tingkat keimanan dan keilmuan yang disertai amal shaleh menuju kesempurnaan.
2.    Dasar Pendidikan Islam
Dasar yang menjadi landasan pendidikan Islam sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat untuk menjalankan aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim kamil, yaitu sumber nilai kebenaran dan kekuatan Islam.
Landasan itu terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat dikembangkan dengan ijtihad.[28] Dari dasar-dasar tersebut Abdul Fattah Jalal membagi dasar pendidikan Islam menjadi dua sumber, yaitu (1) sumber ilahiyyah, yang meliputi al-Qur’an dan Sunnah, dan (2) sumber insaniyyah, yaitu proses ijtihad manusia.[29] Rangkaian dasar tersebut secara hirearki menjadi acuan pelaksanaan sistem pendidikan Islam. Penjelasan mengenai dasar pendidikan Islam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:


a.    Al-Qur’an
Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad.[30]
Sedangkan menurut Abd. Al-Wahhab Al-Khallaf mengemukakan pengertian Al-Qur’an secara lengkap :
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, melalui Jibril dengan menggunakan lafal bahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan membacanya. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhir dengan surat An-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawatir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan serta terjaga dari perubahan dan pergantian.[31]

Penetapan Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber pokok pendidikan Islam dapat dilihat dan dipahami dari ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Seperti firman Allah :
  وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٦٤
(النحل: ٦٤)
Artinya:   dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[32]  (QS. An-Nahl[16]: 64)

Di samping itu, al-Qur’an juga sebagai pedoman normatif, teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Dari al-Qur’an lah digali rumusan-rumusan pendidikan Islam agar sesuai dengan cita-cita Islam.[33]

b.    As-Sunnah
Setelah al-Qur’an maka dasar dalam pendidikan Islam adalah as-Sunnah, as-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah SAW yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, Sunnah juga berisi tentang akidah, syari’ah, dan berisi tentang pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia seutuhnya.[34]
As-Sunnah menjadi sumber utama dalamkehidupan sehari-hari, termasuk juga dalam pendidikan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT :
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
   (الأحزاب:٢۱)
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab [33]:21)[35]

Dijadikannya sunnah sebagai dasar pendidikan Islam tidak lepas dari kenyataan banyak muatan-muatan hukum dalam al-Qur’an yang masih belum dijabarkan secara rinci. Untuk itu keberadaan sunnah Nabi tidak lain adalah sebagai penjelas dan penguat hukum-hukum yang ada di dalam al-Qur’an, sekaligus sebagai pedoman bagi kemaslahatan hidup manusia dalam semua aspeknya.[36]
Dalam kaitannya dengan pendidikan, Rasulullah sendiri menjadi guru dan pendidik utama. Fenomena ini dapat dilihat dari praktik-praktik edukatif Rasulullah itu sendiri. Pertama, beliau menggunakan rumah al-Arqam ibnu Abi al-Arqam untuk mendidik dan mengajar. Kedua, beliau memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca dan tulis, dan ketiga, beliau mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk Islam.
c.    Ijtihad
Ijtihad secara istilah ialah memberi segala daya kesanggupan dalam usaha mengetahui hukum syara’.[37] Sedangkan menurut Abu Zahrah, Ijtihad merupakan produk ijma’ (kesepakatan) para mujtahid Muslim, pada suatu periode tertentu setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, untuk menetapkan hukum syara’ atas berbagai persoalan umat yang bersifat amali.[38]
Ijtihad dalam pendidikan Islam tetap bersumber dari al-Qur`an dan Sunah yang dioleh oleh akal sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah berkaitan dengan kepentingan-kepentingan pendidikan, kebutuhan, dan tuntutan-tuntutan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Perubahan dan dinamika zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi menuntut adanya ijtihad dalam bentuk penelitian dan pengkajian kembali prinsip dan praktik-praktik pendidikan Islam yang ada.
Dengan adanya dasar pijak ijtihad ini, pendidikan islam diharapkan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan-tuntutan sosial budaya di sekitarnya dengan tetap berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah.
3.    Tujuan Pendidikan Islam
Pembahasan tentang tujuan pendidikan Islam , berarti kita membahas tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami. Sedang idealitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[39]
Para ahli pendidikan telah memberikan definisi tentang tujuan pendidikan Islam, di mana rumusan atau definisi yang satu berbeda dari definisi yang lain, akan tetapi pada hakikatnya rumusan dari tujuan pendidikan Islam adalah sama, hanya redaksi dan penekannya saja yang berbeda.
Diantaranya Abd ar-Rahman an- Nahlawi berpendapat :
“Tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku serta perasaan mereka berdasarkan Islam yang pada proses akhirnya bertujuan untuk merealisasikan ketaatan dan penghambaan kepada Allah di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat”.[40]

Kemudian Kongres se-Dunia ke-II tenang Pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad menyatakan :
“Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup perkembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.”[41]





C.    Nilai Dalam Pendidikan Islam
Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir  pada tercapainya tujuan akhir pendidikan yang telah dibahas sebelumnya. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai- nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan.
Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya. Dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah mengacu di dalam jiwa manusia sebagai produk kependidikan.
Di dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan, bahwa pendidikan Islam dikalangan umatnya merupakan salah satu bentuk manivestasi dari cita-cita hidup Islam untuk melestarikan, mengalihkan, menanamkan dan mentransformasikan nilai- nilai Islam kepada pribadi penerusnya. Dengan demikan, pribadi seorang muslim pada hakikatnya harus mengandung nilai- nilai yang didasari atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah SWT seagai sumber mutlak yang harus ditaati.
Ketaatan kepada kekuasaan Allah SWT yang mutlak itu mengandung makna sebagai penyerahan diri secara total kepada-Nya. Dan bila manusia telah bersikap menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, berarti ia telah berada dalam dimensi kehidupan yang dapat mensejahterakan kehidupan didunia dan membahagiakan kehidupan di akhirat.
Adapun nilai-nilai kehidupan ideal yang sesuai dengan sistem nilai Islam adalah sebagai berikut :
1.    Sistem nilai kultural yang senada dan senapas dengan Islam.
2.    Sistem nilai sosial yang memiliki mekanisme gerak yang berorientasi kepada kehidupan sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.
3.    Sistem nilai yang bersifat psikologis dari masing-masing individu yang didorong oleh fungsi-fungsi psikologisnya untuk berperilaku secara terkontrol oleh nilai yang menjadi sumber rujukannya, yaitu Islam.
4.    Sistem nilai tingkah laku dari makhluk (manusia) yang mengandung interrelasi atau interkomunikasi dengan yang lainnya. Tingkah laku ini timbul karena adanya tuntutan dari kebutuhan mempertahankan hidup yang banyak diwarnai oleh nilai-nilai yang motivatif dalam pribadinya.[42]
Dari sistem nilai-nilai kehidupan tersebut, seharusnya ditanam tumbuhkan di dalam pribadi muslim secara seutuhnya melalui proses pembudayaan secara paedagogis, dengan sistem atau struktur kependidikan yang beragam.
Dari sinilah dapat kita ketahui, bahwa dimensi nilai- nilai Islam yang menekankan keseimbangan dan keselarasan hidup duniawi ukhrawi menjadi landasan ideal yang hendak dikembangkan atau dibudayakan dalam pribadi muslim melalui pendidikan sebagai alat pembudayaan.
Nilai-nilai pendidikan Islam pada dasarnyberlandaskapadnilai-nilai Islam yang meliputi semua aspek kehidupan, baik itu yang mengatur tentang hubungan manusia dengan kholiqnya, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Dan pendidikan di sini bertugas untuk mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai- nilai Islam tersebut.
Sejalan dengan itu, maka filosofis pendidikan Islam bertujuan sesuai dengan hakikat penciptaan manusia yaitu agar manusia menjadi pengabdi Allah yang patuh dan setia, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
.

Artinya : “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS.Ad-Dzariyat[51]:56)[43]

Tujuan tersebut tidak mungkin dicapai secara utuh dan sekaligus, perlu proses dan pentahapan. Tujuan ini hanya dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, hingga secara operasional akan diperoleh tujuan acuan lebih kongret. Dari tujuan utama ini kemudian dibuat penjabarannya.
Pencapaian tujuan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di atas, tidak mungkin dilakukan secara serentak. Karenanya, pencapaian tujuan harus dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Namun demikian, setiap tahap dan jenjang memiliki hubungan dan keterkaitan sesamanya, karena ada landasan dasar yang sama, serta tujuan yang tunggal. Pencapaian jenjang itu senantiasa didasarkan pada prinsip dasar pandangan terhadap manusia, alam semesta, ilmu pengetahuan, masyarakat dan akhlak seperti yang termuat dalam dasar pendidikan Islam itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu, maka tujuan pendidikan Islam mengacu kepata tujuan yang dapat dilihat dari berbagai nilai dan dimensi.
Dari sudut  pandang  ini, maka  nilai-nilai  pendidikan Islam  memiliki karakteristik yang ada kaitannya dengan sudut pandangan tertentu. Secara garis besarnya, nilai-nilai pendidikan  dalam Islam dapat dilihat dari tujuh dimensi utama. Setiap dimensi mengacu kepada nilai pokok yang khusus Atas dasar pandangan yang demikian, maka nilai pendidikan dalam Islam mencakup ruang lingkup yang luas.
Pertama, dimensi hakikat penciptaan manusia. Berdasarkan dimensi ini, nilai pendidikan Islam arahannya kepada pencapaian target yang berkaitan dengan hakikat penciptaan manusia oleh Allah SWT. Dari nilai ini, maka pendidikan Islam bertujuan untuk membimbing  perkembangan  peserta didik secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah SWT yang setia. Megacu kepata tujuan tersebut, pendidikan Islam dipandang sebagai upaya untuk menempatkamanusia pada statusnya sebagai makhluk yang diciptakan dan kehidupannya diarahkan pada untuk menaati pedoman kehidupan yang telah ditetapkan baginya.[44]
Kedua,   dimensi   tauhid.   Mengacu   pada   dimens ini,   maka   nilai pendidikan Islam arahannya kepada upaya pembentukan sikap takwa. Dengan demikian, pendidikan ditujukan kepada upaya untuk membimbing dan mengembangkan  potensi  peserta  didik  secara  optimal  agar  dapat  menjadi hamba Allah yang takwa. Di antara ciri mereka yang takwa adalah beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki, beriman kepada al-Qur’an serta kitab samawi lainnya, dan keyakinan   adanya kehidupan akhirat.[45]
Ketiga, dimensi moral. Dimensi ini posisi manusia dipandang sebagai sosok individu yang  memiliki potensi fitrah.  Maksudnya, bahw sejak dilahirkan,  pada  diri  manusia  sudah  ada  sejumlah  potensi  bawaan yang diperoleh secara fitrah. Menurut M. Quraisy Shihab, potensi ini  mengacu kepada tiga kecenderungan utama, yaitu benar, baik dan indah.[46] Hubungannya dengan dimensi moral ini, maka  nilai pendidikan Islam arahannya kepada upaya pembentukan manusia sebagai pribadi yang bermoral. Tujuan pendidikan Islam dititikberatkan pada upaya pengenalan terhadap nilai-nilai yang baik dan kemudian menginternalisasikannya, serta mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam sikap dan perilaku melalui pembiasaan. Sumber utama dari nilai-nilai moral dimaksud adalah ajaran wahyu.[47]
Keempat, dimensi perbedaan individu. Manusia merupakan  makhluk ciptaan yang unik. Secara umum manusia memiliki sejumlah  persamaan. Namun di balik itu sebagai individu, manusia juga memiliki berbagai perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Dimensi individu dititikberatkan pada bimbingan dan pengembangan potensi fitrah  manusia dalam statusnya sebagai insan yang eksploratorif (dapat  mengembangkan diri). Dengan demikian, menurut nilai ini usaha pendidikan ditekankan pada pembentukan insan kamil (manusia paripurna), sesuai  dengan kadar yang dimiliki masing-masing. Manusia sebagai makhluk individu memiliki potensi fisik, mental dan intelektual. Tujuan pendidikan Islam dalam hal ini diarahkan pada pencapaian target perkembangan maksimal dari ketiga potensi tersebut, dengan memperhatikan kepentingan faktor perbedaan individu.[48]
Kelima, dimensi sosial. Manusia merupakan makhluk sosial, yakni makhluk yang memiliki dorongan untuk hidup berkelompok secara bersama- sama. Karenanya, dimensi sosial mengacu kepada kepentingan sebagai makhluk sosial yang didasarkan pada pemahaman bahwa manusia hidup bermasyarakat. Ddala kehidupan  bermasyarakat manusia   mengenal sejumlah  lingkungan  sosial,  darbentuk  satuan  yang  terkecil  hingga  yang paling  kompleks,  yaitu  rumah  tangga  hingga  lingkungan  yang  paling  luas seperti negara. Sejalan dengan nilai-nilai ini, maka tujuan pendidikan  Islam diarahkan kepada pembentukan manusia yang memiliki kesadaran akan kewajiban, hak dan tanggung jawab sosial, serta sikap toleran, agar keharmonisan hubungan antara sesama  manusia dapat berjalan  dengan harmonis.[49]
Keenam, dimensi profesional. Setiap manusia memliki kadar kemampuan yang berbeda-bedan. Berdasarkan pengembangan kemampuan yang dimiliki itu, manusia diharapkan dapat menguasai ketrampilan profesional. Adanya perbedaan dalam bidang kemampuan tersebut, menyebabkan profesi manusia beragam. Hubungannya dengan nilai ini, pendidikan Islam juga mempunyai tujuan tersendiri, yaitu diarahkan kepada upaya untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik, sesuai dengan bakatnya masing-masing. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat memiliki ketrampilan yang serasi dengan bakat yang dimiliki, hingga ketrampilan itu dapat digunakan untuk mencari nafkah sebagai penopang hidupnya.[50]
Ketujuh, dimensi ruang dan waktu. Tujuan pendidikan Islam juga dapat dirumuskan atas dasar pertimbangan dimensi ruang dan waktu, yaitu di mana dan kapan. Nilai ini sejalan dengan tataran pendidikan Islam yang prosesnya terentang dalam lintasan ruang dan waktu yang cukup panjang. Dengan demikian, secara garis besarnya tujuan yang harus dicapai pendidikan Islam harus merangkum semua tujuan yang terkait dalam rentang ruang dan waktu tersebut, utamanya sebagai upaya untuk memperoleh kselamatan hidup di dunia dan di akhirat.[51]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak nilai dan dimensi yang termuat dalam pendidikan Islam. Karenanya, tujuan  pendidikan  Islam arahannya harus mengacu pada nilai-nilai dan dimensi-dimensi tersebut.




[1]W.J.S. Poerwadimarta,  Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), hlm. 677.
[2] M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 60.
[3] W.J.S.  Poerwadimarta, Op.Cit, hlm. 677
[4] Muhaimin  dan  Abdul  Mujib,  Pemikiran  Pendidikan  Islam:  Kajian  Filosofis  dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 111.
[5] Ibid., hlm. 98.
[6] Mahmud Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988), hlm..
[7] M. Chabib Thoha, op.cit., hlm. 60
[8] Mahmud Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988), hlm..
[9]M. Chabib Thoha, op.cit., hlm. 64
[10] Muhammad Surya, Bina Keluarga, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003), hlm. 78-80.
[11] Ibid., hlm. 9.
[12] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm.232.
[13] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 3
[14] Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, (Malang:UIN Maliki Press, 2010), hlm. 4
[15] Ibid
[16] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, t.th.), hlm. 177.
[17] Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hlm. 654
[18] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm.63
[19] Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2008), hlm. 8
[20] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hlm. 26
[21] Ibid
[22] Mahmud Junus, Tarjamah Al-Qur’an Al-Karim, (Bandung: Al Ma’rif, 1988), hlm. 6
[23] Ahmad Tantowi, Op.Cit, hlm. 10
[24] Ibid. hlm. 11
[25] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Op. Cit, hlm. 31
[26] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta: LKIS, 2011), hlm.18
[27] Ibid.
[28] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 19
[29] Ahmad Tantowi, Op.Cit, hlm. 14
[30] Zakiah Daradjat, Op.Cit
[31] Abuddin Nata, Op. Cit, hlm.68
[32] Mahmud Junus, Op. Cit., hlm. 247
[33] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 144.
[34] Zakiah Daradjat, Op.Cit, hlm. 20-21
[35] Mahmud Junus, Op. Cit., hlm. 379
[36] Ahmad Tantowi, Op.Cit, hlm. 17
[37] M. Hasbi Ash Shidieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993), hlm. 192
[38] Ahmad Tantowi, Op.Cit, hlm. 20
[39] Muzayyin Arifin. Op. Cit, hlm. 108
[40] Moh. Roqib, Op. Cit, hlm. 29
[41]Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Op. Cit, hlm. 37-38
[42] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Op.Cit., hlm.127
[43] Mahmud Junus, Op. Cit., hlm.
[44] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 93.
[45] Ibid, hlm. 94
[46] M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 254-261.
[47] Jalaluddin, op.cit., hlm. 95.
[48] Ibid., hlm. 96.
[49] Ibid., hlm. 97.
[50] Ibid., hlm. 99.
[51] Ibid., hlm. 100.