NILAI PENDIDIKAN ISLAM
Penulis : Imam Prayogo, S.Pd.I
A.
Nilai
1.
Pengertian nilai
Segala sesuatu
yang ada dalam alam semesta ini disadari atau tidak, mengandung nilai-nilai
yang abstrak seperti cinta, kejujuran, kebajikan, dan lain-lain yang merupakan
perwujudan dari bentuk nilai-nilai di dalam dunia budaya manusia.
Dalam bahasa
Inggris nilai adalah “value”. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia
nilai mempunyai beberapa pengertian yaitu “harga (dalam artian taksiran harga),
harga sesuatu (uang misalnya), jika ditukarkan atau di ukur dengan yang lain.
Angka potensi, kadar, mutu, sedikit banyaknya isi, dan sifat-sifat (hal-hal)
yang berguna bagi manusia.[1]
Menurut Sidi Gazalba sebagaimana dikutip M. Chabib Thoha menyebutkan bahwa nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, sesuatu yang ideal, bukan benda konkrit,
bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menutut pembuktian
empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak
disenangi.[2]
Nilai merupakan
realitas abstrak. Nilai dapat dirasakan
dalam diri seseorang yang masing-masing sebagai daya pendorong atau
prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam
hidup. Karenanya, nilai menduduki
tempat penting dalam kehidupan seseorang sampai pada suatu tingkat, di mana sementara
orang lebih siap untuk mengorbankan hidup mereka dari
pada mengorbankan nilai.
Perlu digaris
bawahi bahwa apa
yang disebut "nilai" adalah suatu pola normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi
suatu sistem yang ada
kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi- fungsi
bagian-bagiannya.[3]
Nilai lebih mengutamakan fungsinya memeliharaan pola dari sistem sosial.
Nilai dapat terwujud keluar dalam
pola-pola tingkah laku, sikap-
sikap dan pola pikir. Nilai-nilai
juga ditanamkan pada seorang pribadi
dalam suatu proses sosialisasi, melalui sumber-sumber yang berbeda misalnya keluarga, lingkungan, pendidikan,
agama. Dengan mengetahui
sumber dan sarana-sarana yang menanamkan nilai-nilai, orang dapat memahami kekuatan nilai-nilai tersebut bertahan pada dirinya. Nilai mempunyai fungsi sebagai
standar dan dasar pembentukan konflik dan pembuatan keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan dasar
perwujudan diri.
Suatu nilai dapat diterima oleh seseorang
karena nilai itu sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya,
dalam hubungan
dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan yang memungkinkan seseorang mampu merasakan diri
dalam konteks
hubungannya dengan lingkungannya.
Nilai yang berkaitan dengan pembahasan ini
yaitu nilai yang terkait dengan pendidikan Islam yaitu nilai pendidikan yang
berdasarkan serta bertujuan sesuai dengan ajaran Islam yang melingkupinya.
2.
Macam-macam Nilai
Macam atau bentuk nilai sangatlah komplek dan
sangatlah banyak. Karena pada dasarnya nilai itu
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga dari sini terdapat bermacam-macam nilai. Dilihat dari sumbernya nilai dapat diklasifikasikan menjadi dua macam,[4]
yaitu:
a.
Nilai Illahiyah (nash) yaitu Nilai yang diwahyukan
melalui Rasul
yang berbentuk
iman, takwa, iman adil, yang diabadikan
dalam Al-Qur’an. Nilai ini merupakan nilai
yang
pertama
dan paling utama bagi para penganutnya dan akhirnya nilai tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini bersifat statis dan kebenarannya mutlak[5] Allah berfirman dalam surat Al- Baqarah ayat 2:
ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى
لِّلۡمُتَّقِينَ ٢
(البقرة : ٢)
Artinya: Kitab (Al Quran)
ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[6]
Nilai-nilai Illahiyah selamanya tidak mengalami perubahan. Nilai Illahiyah ini mengandung kemutlakan bagi
kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat, serta tidak
berkecendrungan untuk berubah mengikuti selera hawa nafsu manusia dan berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individu.
b.
Nilai Insaniyah, nilai insaniyah merupakan
nilai yang diciptakan oleh manusia atas dasar kriteria yang diciptakan oleh manusia pula.[7] Nilai ini tumbuh atas kesepakatan manusia
serta berkembang dan hidup dari peradaban manusia. Nilai
insani ini kemudian melembaga menjadi
tradisi-tradisi
yang diwariskan turun-temurun
mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya.
Disini peran manusia
dalam
melakukan kehidupan
di dunia ini berperan
untuk melakukan perubahan kearah nilai yang lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 53:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا
نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ
وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٥٣
(الانفال : ۵۳ )
Artinya
: (siksaan) yang demikian itu adalah
karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang
telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang
ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha
mengetahui. (QS. Al-Anfal : 53)[8]
Sedangkan nilai dilihat dari segi sifat nilai itu dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a.
Nilai subjektif adalah nilai yang merupakan reaksi subjek dan objek. Hal ini sangat tergantung kepada massing-masing pengalaman subjek tersebut.
b.
Nilai subjektif rasional (logis) yakni nilai-nilai yang merupakan esensi dari objek secara logis yang dapat diketahui
melalui akal sehat, seperti nilai kemerdekaan, nilai kesehatan, nilai keselamatan, badan dan jiwa, nilai perdamaian dan sebagainya.
c.
Nilai yang bersifat objektif metafisik yaitu nilai yang ternyata mampu menyusun kenyataan objektif seperti nilai-nilai agama.[9]
3.
Fungsi Nilai
Nilai mempunyai fungsi sebagai
standar dan dasar pembentukan konflik dan pembuatan keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan dasar
perwujudkan diri.
a.
Nilai sebagai standar. Nilai merupakan
patokan (standar) haluan perilaku dalam berbagai cara seperti; dapat mengarahkan untuk mengambil posisi tertentu dalam masalah sosial, mempersiapkan untuk menghadapi pemikiran dan sikap orang
lain, membimbing diri sendiri terhadap orang lain, menilai dan menghargai diri
sendiri dan orang lain, mempelajari diri sendiri dan orang lain, mengajak
dan mempengaruhi nilai orang lain untuk mengubahnya ke arah
yang lebih baik, dan memberikan alasan terhadap tindakan yang
dilakukan.
b.
Nilai sebagai dasar penyelesaian
konflik dan pembuatan keputusan. Dengan adanya nilai dalam
diri seseorang, maka konflik atau pertentangan yang
ada dalam diri sendiri maupun
orang lain, dapat lebih mudah terselasaikan. Di samping itu, pembuatan keputusan dapat dilakukan
secara lebih efektif atas dasar
nilai yang ada.
c.
Nilai sebagai motivasi. Nilai
yang dianut seseorang akan lebih mendorong
seseorang untuk melakukan tindakan yang sesuai nilainya. Dengan demikian
pemahaman terhadap nilai akan meningkatkan
motivasi dalam melakukan
suatu tindakan.
d.
Nilai sebagai dasar penyesuaian
diri. Dengan pemahaman nilai yang baik orang cenderung akan lebih mampu menyesuaikan
diri secara lebih baik. Memahami nilai orang lain dan nilai kehidupan
penting artinya bagi seseorang
untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
e.
Nilai sebagai dasar perwujudan
diri. Proses perwujudan diri ini
banyak ditentukan dan diarahkan oleh
nilai yang ada dalam dirinya.[10]
Menurut Muhammad Surya, nilai yang
dianut seseorang akan tercermin dalam
tindakan-tindakan yang dipilihnya.
Karenanya, nilai pendidikan yang ada
pada seseorang akan tercermin
pula pada tindakan- tindakannya.[11]
B.
Pendidikan Islam
1.
Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan Islam berasal dari dua kata yaitu “pendidikan” dan
kata “Islam”. Pengertian pendidikan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah,
proses pengubahan perilaku dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, perbuatan, cara
mendidik.[12]
Menurut Jhon Dewey pendidikan sebagai suatu proses pembentukan
kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual)
maupun daya perasaan (emosional) menuju ke arah tabiat manusia dan manusia
biasa.[13]
Sedangkan menurut Zuhairini (dalam Moh. Padil danTriyo Supriyatno)
pendidikan diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan ruhani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.[14]
Selain itu dalam ensiklopedi pendidikan kata pendidikan diartikan dengan
luas. Makna pendidikan adalah suatu usaha sadar memfasilitasi orang sebagai
pribadi yang utuh sehingga teraktualisasi dan terkembangkan potensinya mencapai
taraf pertumbuhan dan perkembangan yang dikehendaki melalui belajar.[15]
Pendidik di sini harus diakui haknya oleh anak didik dan mendapat
kepercayaan anak didik untuk mencapai hasil baik dalam usahanya. Dengan
demikian pendidik itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas dasar tugas
atau kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya guru sekolah,
kyai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainya.
Jika pendidikan dikaitkan dengan kata Islam, maka rangkaian
perumusannya setidak-tidaknya harus bisa menggambarkan unsur-unsur makna dari
rangkaian kata tersebut. Jika tidak demikian akan menjadikan arti pendidikan
Islam kurang lengkap.
Ditinjau dari segi bahasa, kata Islam berasal dari bahasa Arab yang
memiliki berbagai makna. Secara etimologi, kata Islam berasal dari bahasa Arab salima-yaslimu-salamatan,
Islaman, yang artinya tunduk, patuh, beragama Islam.[16] Dari ‘salima’ muncul kata ‘aslama’
yang artinya menyelamatkan, mendamaikan, dan mensejahterakan. Kata ‘aslama’
juga berarti menyerah, tunduk, atau patuh. Dari kata ‘salima’ juga muncul
beberapa kata turunan yang lain, di antaranya adalah kata ‘salam’
dan ‘salamah’ artinya keselamatan, kedamaian,
kesejahteraan, dan penghormatan, ‘taslim’ artinya penyerahan, penerimaan, dan
pengakuan, ‘silm’ artinya yang berdamai, damai, ‘salam’
artinya kedamaian, ketenteraman, dan hormat, ‘sullam’ artinya
tangga, ‘istislam’ artinya ketundukan, penyerahan diri.[17]
Menurut Abudin Nata Islam adalah
patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah dalam upaya mencari
keselamatan, dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.[18]
Untuk memahami pengertian pendidikan
Islam setidaknya ditawarkan tiga istilah oleh para pemikir Muslim, antara lain;
al-tarbiyah, al-ta’lim, al-ta’dib.[19]
Istilah-istilah tersebut kalau
dilihat teks dan konteksnya mempunyai makna yang berbeda-beda, meskipun dalam
hal-hal tertentu mempunyai kemiripan makna.
a.
Al-Tarbiyah
Al-Tarbiyah berasal dari kata rabb, yang pengertian
dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur
dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.[20]
Semua kata tersebut sebenarnya memiliki kesamaan makna, walaupun dalam konteks
tertentu mempunyai perbedaan. Dalam term al-tarbiyah ini mengandung
empat unsur pendekatan, yaitu (1) memelihara dan menjaga fitrah anak
didik menjelang dewasa. (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
(3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan
secara bertahap.[21]
b.
Al-Ta’lim
Pemilihan kata al-ta’lim dalam pengertian
pendidikan , sesuai dengan firman Allah swt. :
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ
عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ
إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١
(البقرة:
٣١ )
Artinya: “dan Dia mengajarkan kepada
Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para
Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31)[22]
Apabila
dilihat dari batasan pengertian kata al-ta’lim pada ayat diatas, terlihat pengertian yang
dimaksudkan mengandung makna yang terlalu sempit. Pengertian al-ta;lim hanya
sebatas transmisi seperangkat nilai antar manusia. Dia hanya dituntut untuk
menguasai nilai yang ditransfer secara kognitif dan psikomotorik, akan tetapi
tidak dituntut pada domain afektif.[23]
Akan tetapi menurut Abdul Fattah Jalal istilah al-ta’lim mempunyai
cakupan yang cukup luas dibanding dengan istilah al-tarbiyah yang
sebetulnya berlaku hanya untuk anak kecil, yakni proses persiapan dan
pengusahaan pada fase pertama pertumbuhan manusia.[24]
Sedangkan al-ta’lim secara implisit juga menanamkan sikap afektif,
karena pengertian al-ta’lim juga
ditekankan pada perilaku yang baik (akhlaq al-karimah).
c.
Al-Ta’dib
Menurut
Sayed Muhammad Naquib al-Attas istilah yang paling tepat untuk menunjukkan
pendidikan Islam adalah al-ta’dib, karena istilah al-ta’dib merupakan term yang
paling tepat dalam khazanah bahasa arab karena mengandung arti ilmu, kebijaksanaan,
pengajaran, dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-tarbiyah dan al-ta’lim
sudah tercakup dalam term al-ta’dib.[25]
Berkaitan
dengan itu secara teoritis Muhammad at-Taoumi sebagaimana dikutip Moh. Roqib mendefinisikan
pendidikan Islam sebagai proses pengubahan tingkah laku individu pada kehidupan
pribadi, kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan di alam sekitarnya.[26]
Begitu juga Muhammad Hamid an-Nashir dan Kulah Abd al-Qadir Darwis
mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia
(ri’ayah) pada sisi jasmani, akal, bahasa, tingkah laku, dan kehidupan
sosial dan keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan.[27]
Dari definisi-definisi
pendidikan Islam di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan pendidikan Islam adalah pembinaan, pengembangan, pemeliharaan
terhadap potensi yang ada diri manusia dalam aspek kehidupannya dengan didasari
nilai-nilai ajaran Islam, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan dan
perbuatan serta tercapainya tingkat keimanan dan keilmuan yang disertai amal
shaleh menuju kesempurnaan.
2.
Dasar Pendidikan Islam
Dasar yang
menjadi landasan pendidikan Islam sebagai tempat berpijak yang baik dan kuat
untuk menjalankan aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian
muslim kamil, yaitu sumber nilai kebenaran dan kekuatan Islam.
Landasan itu
terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat dikembangkan
dengan ijtihad.[28]
Dari dasar-dasar tersebut Abdul Fattah Jalal membagi dasar pendidikan Islam
menjadi dua sumber, yaitu (1) sumber ilahiyyah, yang meliputi al-Qur’an
dan Sunnah, dan (2) sumber insaniyyah, yaitu proses ijtihad manusia.[29]
Rangkaian dasar tersebut secara hirearki menjadi acuan pelaksanaan sistem
pendidikan Islam. Penjelasan mengenai dasar pendidikan Islam tersebut dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a.
Al-Qur’an
Al-Qur’an ialah
firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad
SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk
keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad.[30]
Sedangkan
menurut Abd. Al-Wahhab Al-Khallaf mengemukakan pengertian Al-Qur’an secara
lengkap :
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati
Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, melalui Jibril dengan menggunakan lafal
bahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi rasul, bahwa
ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk
kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah
kepada Allah dengan membacanya. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat
Al-Fatihah dan diakhir dengan surat An-Nas, disampaikan kepada kita secara
mutawatir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan serta
terjaga dari perubahan dan pergantian.[31]
Penetapan
Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber pokok pendidikan Islam dapat dilihat dan
dipahami dari ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Seperti firman Allah :
وَمَآ
أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ
فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٦٤
(النحل: ٦٤)
Artinya: dan Kami tidak menurunkan kepadamu
Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka
apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang beriman.[32] (QS.
An-Nahl[16]: 64)
Di
samping itu, al-Qur’an juga sebagai pedoman normatif, teoritis dalam
pelaksanaan pendidikan Islam. Dari al-Qur’an lah digali rumusan-rumusan
pendidikan Islam agar sesuai dengan cita-cita Islam.[33]
b.
As-Sunnah
Setelah
al-Qur’an maka dasar dalam pendidikan Islam adalah as-Sunnah, as-Sunnah ialah
perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah SAW yang dimaksud dengan
pengakuan itu adalah perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan
beliau membiarkan saja kejadian itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran
kedua setelah al-Qur’an, Sunnah juga berisi tentang akidah, syari’ah, dan
berisi tentang pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia seutuhnya.[34]
As-Sunnah
menjadi sumber utama dalamkehidupan sehari-hari, termasuk juga dalam
pendidikan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT :
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ
حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ
كَثِيرٗا ٢١
(الأحزاب:٢۱)
Artinya: “Sesungguhnya telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab [33]:21)[35]
Dijadikannya sunnah sebagai dasar pendidikan Islam tidak lepas dari
kenyataan banyak muatan-muatan hukum dalam al-Qur’an yang masih belum
dijabarkan secara rinci. Untuk itu keberadaan sunnah Nabi tidak lain adalah
sebagai penjelas dan penguat hukum-hukum yang ada di dalam al-Qur’an, sekaligus
sebagai pedoman bagi kemaslahatan hidup manusia dalam semua aspeknya.[36]
Dalam kaitannya dengan pendidikan, Rasulullah sendiri menjadi guru
dan pendidik utama. Fenomena ini dapat dilihat dari praktik-praktik edukatif
Rasulullah itu sendiri. Pertama, beliau menggunakan rumah al-Arqam ibnu Abi
al-Arqam untuk mendidik dan mengajar. Kedua, beliau memanfaatkan tawanan perang
untuk mengajar baca dan tulis, dan ketiga, beliau mengirim para sahabat ke daerah-daerah
yang baru masuk Islam.
c.
Ijtihad
Ijtihad secara
istilah ialah memberi segala daya kesanggupan dalam usaha mengetahui hukum
syara’.[37]
Sedangkan menurut Abu Zahrah, Ijtihad merupakan produk ijma’
(kesepakatan) para mujtahid Muslim, pada suatu periode tertentu setelah
wafatnya Nabi Muhammad SAW, untuk menetapkan hukum syara’ atas berbagai
persoalan umat yang bersifat amali.[38]
Ijtihad dalam
pendidikan Islam tetap bersumber dari al-Qur`an dan Sunah yang dioleh oleh akal
sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah berkaitan dengan
kepentingan-kepentingan pendidikan, kebutuhan, dan tuntutan-tuntutan hidup di
suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Perubahan dan dinamika zaman
yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi
menuntut adanya ijtihad dalam bentuk penelitian dan pengkajian kembali prinsip
dan praktik-praktik pendidikan Islam yang ada.
Dengan adanya
dasar pijak ijtihad ini, pendidikan islam diharapkan akan terus berkembang
sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan-tuntutan sosial budaya di
sekitarnya dengan tetap berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah.
3.
Tujuan Pendidikan Islam
Pembahasan tentang tujuan pendidikan Islam , berarti kita membahas
tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa
tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas
islami. Sedang idealitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai
perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah
sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[39]
Para ahli pendidikan telah memberikan definisi tentang tujuan
pendidikan Islam, di mana rumusan atau definisi yang satu berbeda dari definisi
yang lain, akan tetapi pada hakikatnya rumusan dari tujuan pendidikan Islam
adalah sama, hanya redaksi dan penekannya saja yang berbeda.
Diantaranya Abd ar-Rahman an- Nahlawi berpendapat :
“Tujuan
pendidikan Islam adalah mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku
serta perasaan mereka berdasarkan Islam yang pada proses akhirnya bertujuan
untuk merealisasikan ketaatan dan penghambaan kepada Allah di dalam kehidupan
manusia, baik individu maupun masyarakat”.[40]
Kemudian Kongres se-Dunia ke-II tenang Pendidikan Islam tahun 1980
di Islamabad menyatakan :
“Tujuan
pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian
manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui
latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan
dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup perkembangan seluruh aspek
fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah,
dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua aspek
tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir
pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada
Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.”[41]
C.
Nilai Dalam Pendidikan Islam
Bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka
proses tersebut akan berakhir pada
tercapainya tujuan akhir pendidikan yang telah dibahas sebelumnya. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya
adalah suatu perwujudan dari nilai- nilai
ideal yang terbentuk dalam pribadi
manusia yang diinginkan.
Nilai-nilai ideal itu
mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan
manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya.
Dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai
ideal yang telah mengacu di dalam jiwa manusia sebagai produk kependidikan.
Di dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan, bahwa pendidikan Islam dikalangan umatnya merupakan
salah satu bentuk manivestasi dari cita-cita hidup Islam untuk
melestarikan, mengalihkan, menanamkan dan mentransformasikan nilai- nilai Islam kepada pribadi penerusnya. Dengan demikan, pribadi seorang
muslim pada hakikatnya harus mengandung nilai- nilai yang didasari
atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah SWT seagai sumber mutlak yang harus ditaati.
Ketaatan kepada
kekuasaan Allah SWT yang mutlak
itu mengandung makna sebagai
penyerahan diri secara total kepada-Nya. Dan bila manusia telah bersikap menghambakan
diri sepenuhnya kepada Allah, berarti
ia telah
berada dalam dimensi
kehidupan
yang dapat mensejahterakan kehidupan didunia dan membahagiakan kehidupan di
akhirat.
Adapun nilai-nilai kehidupan ideal yang sesuai dengan sistem nilai
Islam adalah sebagai berikut :
1.
Sistem nilai kultural yang senada dan senapas dengan Islam.
2.
Sistem nilai sosial yang memiliki mekanisme gerak yang berorientasi
kepada kehidupan sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.
3.
Sistem nilai yang bersifat psikologis dari masing-masing individu yang
didorong oleh fungsi-fungsi psikologisnya untuk berperilaku secara terkontrol
oleh nilai yang menjadi sumber rujukannya, yaitu Islam.
4.
Sistem nilai tingkah laku dari makhluk (manusia) yang mengandung
interrelasi atau interkomunikasi dengan yang lainnya. Tingkah laku ini timbul
karena adanya tuntutan dari kebutuhan mempertahankan hidup yang banyak diwarnai
oleh nilai-nilai yang motivatif dalam pribadinya.[42]
Dari sistem nilai-nilai
kehidupan tersebut, seharusnya ditanam tumbuhkan di dalam pribadi muslim secara seutuhnya melalui proses pembudayaan secara paedagogis, dengan sistem atau struktur kependidikan yang beragam.
Dari sinilah dapat kita ketahui, bahwa dimensi nilai- nilai Islam yang menekankan keseimbangan dan keselarasan hidup duniawi ukhrawi menjadi landasan ideal yang
hendak dikembangkan atau dibudayakan dalam pribadi muslim melalui pendidikan sebagai alat pembudayaan.
Nilai-nilai pendidikan
Islam pada dasarnya berlandaskan pada nilai-nilai Islam
yang meliputi semua aspek kehidupan,
baik itu yang mengatur tentang
hubungan manusia
dengan kholiqnya, hubungan
manusia dengan manusia
dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Dan pendidikan di sini
bertugas untuk mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai- nilai Islam tersebut.
Sejalan dengan itu, maka filosofis pendidikan Islam bertujuan sesuai
dengan hakikat penciptaan manusia yaitu agar manusia menjadi pengabdi Allah yang patuh dan setia, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an
surat al-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا
لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
.
Artinya : “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS.Ad-Dzariyat[51]:56)[43]
Tujuan tersebut
tidak mungkin dicapai secara utuh dan sekaligus, perlu proses dan pentahapan. Tujuan
ini hanya dijadikan dasar dalam merumuskan
tujuan pendidikan Islam, hingga
secara operasional akan
diperoleh tujuan acuan lebih kongret. Dari tujuan utama ini kemudian dibuat
penjabarannya.
Pencapaian tujuan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di atas,
tidak mungkin dilakukan secara serentak. Karenanya, pencapaian
tujuan harus dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Namun demikian, setiap tahap dan jenjang memiliki hubungan dan keterkaitan
sesamanya, karena ada landasan dasar yang sama, serta tujuan yang tunggal. Pencapaian jenjang itu senantiasa
didasarkan pada prinsip
dasar pandangan terhadap
manusia, alam semesta,
ilmu
pengetahuan, masyarakat
dan akhlak seperti yang termuat dalam dasar
pendidikan Islam itu sendiri.
Sehubungan dengan hal itu, maka tujuan
pendidikan Islam mengacu kepata tujuan yang dapat dilihat dari berbagai nilai dan dimensi.
Dari sudut pandang ini, maka nilai-nilai pendidikan Islam memiliki karakteristik yang ada
kaitannya dengan sudut pandangan
tertentu. Secara garis besarnya, nilai-nilai pendidikan
dalam Islam
dapat dilihat dari
tujuh dimensi utama. Setiap dimensi mengacu kepada nilai pokok yang
khusus Atas dasar pandangan
yang
demikian, maka nilai pendidikan dalam Islam mencakup ruang lingkup yang luas.
Pertama, dimensi hakikat penciptaan
manusia.
Berdasarkan
dimensi
ini, nilai pendidikan Islam arahannya kepada pencapaian target yang berkaitan dengan hakikat penciptaan manusia oleh Allah SWT. Dari nilai ini, maka pendidikan Islam bertujuan untuk
membimbing
perkembangan peserta didik secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah SWT yang
setia. Megacu kepata tujuan tersebut, pendidikan Islam
dipandang sebagai upaya untuk menempatkan manusia pada statusnya sebagai makhluk yang diciptakan dan kehidupannya diarahkan pada untuk menaati pedoman kehidupan yang telah ditetapkan baginya.[44]
Kedua, dimensi tauhid.
Mengacu pada dimensi ini, maka nilai pendidikan Islam
arahannya kepada upaya pembentukan sikap takwa. Dengan demikian, pendidikan ditujukan kepada upaya
untuk membimbing dan mengembangkan
potensi
peserta
didik secara
optimal
agar
dapat menjadi hamba Allah yang takwa. Di antara ciri mereka yang takwa adalah beriman kepada yang ghaib,
mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki, beriman kepada al-Qur’an serta kitab samawi lainnya, dan keyakinan adanya kehidupan akhirat.[45]
Ketiga, dimensi moral. Dimensi ini
posisi manusia dipandang sebagai sosok individu yang
memiliki potensi fitrah. Maksudnya, bahwa sejak dilahirkan, pada
diri
manusia
sudah ada
sejumlah potensi
bawaan yang diperoleh secara fitrah. Menurut M. Quraisy Shihab, potensi ini
mengacu kepada tiga kecenderungan utama,
yaitu benar, baik dan indah.[46]
Hubungannya dengan dimensi moral
ini, maka nilai
pendidikan Islam
arahannya kepada upaya
pembentukan manusia sebagai pribadi
yang bermoral. Tujuan pendidikan
Islam dititikberatkan pada upaya pengenalan
terhadap nilai-nilai yang baik dan kemudian menginternalisasikannya, serta mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam sikap dan
perilaku melalui pembiasaan. Sumber utama
dari nilai-nilai moral dimaksud adalah ajaran wahyu.[47]
Keempat, dimensi perbedaan
individu. Manusia merupakan
makhluk ciptaan yang
unik. Secara umum manusia memiliki sejumlah persamaan. Namun di balik itu sebagai individu, manusia juga memiliki berbagai perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Dimensi individu dititikberatkan pada bimbingan dan pengembangan potensi fitrah manusia dalam
statusnya sebagai insan yang eksploratorif
(dapat mengembangkan
diri). Dengan demikian, menurut nilai ini
usaha pendidikan ditekankan pada pembentukan insan kamil (manusia
paripurna), sesuai dengan
kadar yang dimiliki masing-masing. Manusia
sebagai makhluk individu memiliki potensi fisik, mental dan intelektual. Tujuan pendidikan Islam dalam hal ini
diarahkan pada pencapaian target perkembangan maksimal dari ketiga potensi tersebut,
dengan memperhatikan kepentingan faktor perbedaan individu.[48]
Kelima, dimensi sosial. Manusia merupakan makhluk sosial, yakni makhluk yang memiliki dorongan untuk hidup berkelompok secara bersama- sama. Karenanya, dimensi sosial
mengacu kepada kepentingan sebagai
makhluk sosial yang didasarkan
pada pemahaman bahwa manusia
hidup bermasyarakat. Di dalam kehidupan
bermasyarakat, manusia mengenal sejumlah lingkungan
sosial, dari bentuk satuan
yang
terkecil
hingga yang paling
kompleks,
yaitu
rumah tangga
hingga lingkungan yang
paling luas seperti negara. Sejalan dengan nilai-nilai
ini, maka tujuan pendidikan Islam diarahkan kepada pembentukan manusia yang
memiliki kesadaran akan kewajiban, hak
dan tanggung
jawab sosial, serta sikap toleran, agar keharmonisan
hubungan antara sesama
manusia dapat berjalan dengan harmonis.[49]
Keenam, dimensi
profesional. Setiap manusia memliki
kadar kemampuan yang berbeda-bedan. Berdasarkan
pengembangan kemampuan yang dimiliki itu, manusia diharapkan dapat menguasai ketrampilan profesional. Adanya perbedaan dalam bidang kemampuan tersebut, menyebabkan profesi manusia beragam. Hubungannya dengan nilai
ini, pendidikan Islam
juga mempunyai tujuan tersendiri, yaitu diarahkan kepada upaya untuk
membimbing dan mengembangkan
potensi peserta didik, sesuai dengan bakatnya masing-masing. Dengan demikian, diharapkan mereka
dapat memiliki ketrampilan yang serasi dengan bakat yang
dimiliki,
hingga ketrampilan itu dapat digunakan untuk mencari
nafkah sebagai penopang hidupnya.[50]
Ketujuh, dimensi ruang dan waktu. Tujuan pendidikan
Islam
juga
dapat dirumuskan atas
dasar pertimbangan dimensi ruang dan
waktu, yaitu di mana dan kapan. Nilai ini sejalan dengan tataran
pendidikan Islam yang prosesnya terentang dalam lintasan ruang dan waktu yang cukup panjang. Dengan demikian, secara garis besarnya tujuan yang harus dicapai pendidikan Islam harus merangkum semua tujuan yang terkait dalam rentang ruang dan waktu tersebut, utamanya sebagai upaya untuk memperoleh kselamatan hidup di dunia dan di akhirat.[51]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak nilai dan dimensi yang termuat dalam pendidikan Islam. Karenanya,
tujuan pendidikan
Islam arahannya harus mengacu pada nilai-nilai dan dimensi-dimensi tersebut.
[2] M.
Chabib Thoha, Kapita
Selekta Pendidikan Islam., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 60.
[4] Muhaimin
dan Abdul
Mujib,
Pemikiran Pendidikan
Islam:
Kajian
Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda
Karya, 1993),
hlm. 111.
[6] Mahmud
Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988),
hlm..
[10] Muhammad Surya, Bina Keluarga, (Semarang:
CV. Aneka Ilmu, 2003), hlm. 78-80.
[11] Ibid., hlm. 9.
[13]
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
2005), hlm. 3
[15] Ibid
[16] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya
Agung, t.th.), hlm. 177.
[17]
Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997),
hlm. 654
[18] Abudin
Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm.63
[19]
Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, (Semarang:
Pustaka Rizki Putra, 2008), hlm. 8
[20]
Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis,
Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hlm. 26
[21] Ibid
[22]
Mahmud Junus, Tarjamah Al-Qur’an Al-Karim, (Bandung: Al Ma’rif, 1988),
hlm. 6
[23]
Ahmad Tantowi, Op.Cit, hlm. 10
[24] Ibid.
hlm. 11
[26]
Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarta: LKIS, 2011), hlm.18
[27] Ibid.
[28]
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011),
hlm. 19
[31]
Abuddin Nata, Op. Cit, hlm.68
[33] Muhaimin dan
Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993),
hlm. 144.
[34] Zakiah
Daradjat, Op.Cit, hlm. 20-21
[35] Mahmud
Junus, Op. Cit., hlm. 379
[37] M.
Hasbi Ash Shidieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, (Jakarta: PT. Bulan Bintang,
1993), hlm. 192
[39]
Muzayyin Arifin. Op. Cit, hlm. 108
[42]
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Op.Cit., hlm.127
[43] Mahmud
Junus, Op. Cit., hlm.
[45] Ibid,
hlm. 94
No comments:
Post a Comment