NILAI
– NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TAFSIR AL-QUR’AN
SURAT
AL-HUJURAT AYAT 6-8
Penulis : Imam Prayogo, S.
A.
Latar Belakang Masalah
Tidak terbantahkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang urgen
bagi proses perkembangan pribadi manusia. Pendidikan adalah proses peralihan
dan penyerapan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri manusia dengan jalan
penumbuhan dan pengembangan potensi dasar yang dimilikinya yaitu potensi fitrah
yang diberikan Allah sejak ia dilahirkan.
Manusia merupakan makhluk paedagogik yaitu makhluk Allah yang
dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik.[1]
Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang
bermakna dalam kehidupan.[2]
Proses pendidikan hakikatnya sebagai usaha untuk membina dan
mengembangkan kepribadian dan tingkah laku manusia sehingga sesuai dengan
tujuan diciptakannya manusia menjadi khalifah di bumi.
Oleh karena itu, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan
pendidikan. Meskipun manusia sejak lahir membawa potensi fitrah (kebenaran),
akan tetapi ia dilahirkan dalam keadaan belum mengetahui apa-apa. Sesuai dengan
firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 78 :
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& w
cqßJn=÷ès? $\«øx© @yèy_ur
ãNä3s9
yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur
öNä3ª=yès9
crãä3ô±s? (النحل
: ٧٨)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu,
sedang kamu tiada mengetahui sesuatupun, dan Dia adakan bagimu pendengaran,
pengelihatan, dan hati, mudah-mudahan kamu berterimakasih kepada-Nya”. (QS.
An-Nahl: 78)[3]
Syaikh Imam Al- Qurthubi menerangkan ayat tersebut dalam tafsirnya
“Disebutkan bahwa diantara nikmat-nikmat-Nya adalah dikeluarkannya dirimu dari
perut ibumu sebagai bayi dengan kondisi yang tidak berilmu sedikitpun”.[4]
Dalam hal ini manusia dilahirkan cenderung membawa sifat kebaikan, meskipun ia
tidak memiliki ilmu sedikitpun. Dengan demikian pendidikan merupakan kebutuhan
utama bagi tumbuh kembangnya manusia. Pendidikan merupakan fitrah manusia yang
harus terpenuhi. Karena sebagai fitrah pendidikan harus senantiasa disesuaikan
dengan fitrah kemanusiaan yang hakiki yakni menyangkut aspek material dan
spiritual, aspek keilmuan dan moral, serta aspek duniawi dan ukhrowi.
Islam memandang manusia sebagai mahluk yang mulia, karena ia
memiliki ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh manusia
melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan
merupakan hasil pengolahan akal (berpikir) dan perasaan tentang sesuatu yang
diketahui itu.[5]
Dengan ilmu pengetahuan manusia akan mampu menjalankan kedudukannya
sebagai khalifatullah fi al-ardh seperti firman Allah dalam surat
Al-Baqarah ayat 30
“(ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan
seorang khalifah di atas bumi. Maka jawab mereka itu: Adakah patut Engkau
jadikan di atas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah,
sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman:
sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tiada kamu ketahui”.[6]
Dalam konteks kedudukan manusia tersebut, khususnya manusia muslim
maka pendidikan merupakan proses pertumbuhan manusia dalam segala aspek untuk
mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Sehingga membentuk manusia yang
berkepribadian muslim yang bertakwa dalam rangka melaksanakan tugas
kekhalifahan dan peribadatan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.[7]
Agar pendidikan dapat melaksanakan fungsinya sebagai agent of
culture dan bermanfaat bagi manusia, maka perlu acuan pokok yang
mendasarinya. Karena pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan
manusia, yang secara kodrati adalah insan pedagogik, maka acuan yang menjadi
dasar bagi pendidikan adalah nilai yang tertinggi dari pandangan hidup suatu
masyarakat dimana pendidikan itu dilaksanakan.[8] Pendidikan
islam didasari oleh pedoman hidup umat islam yang bersifat transenden dan
universal yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Sebagai sumber pedoman bagi umat islam, al-Qur’an mengandung dan
membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia dan merupakan petunjuk bagi
manusia, seperti pada firman-Nya:
¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 Ïf ãPuqø%r& çÅe³u;ãur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷èt ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZÎ6x. ) الأسراء:٩)
“Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjuki (jalan) yang lebih lurus dan
memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan (‘amalan)
yang saleh; sesungguhnya untuk mereka itu pahala yang besar.”[9]
Karena itu, pelaksanaan pendidikan islam harus senantiasa mengacu
pada sumber yang termuat dalam al-Qur’an. Dengan berpegang pada nilai-nilai
yang terkandung dalam al-Qur’an—terutama dalam pelaksanaan pendidikan
islam—umat islam akan mampu mengarahkan dan mengantarkan umat manusia menjadi
kreatif dan dinamis serta mampu mencapai esensi nilai-nilai ubuddiyah kepada
penciptanya. Dengan sikap ini, proses pendidikan islam akan senantiasa terarah
dan mampu melahirkan output berupa manusia berkualitas dan bertanggung jawab terhadap semua
aktifitas yang dilakukannya.[10] Manusia
yang berkualitas yaitu manusia yang bisa membedakan sesuatu yang baik dan buruk
berdasarkan pengetahuannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hujurat
ayat 6:
“Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasik (membawa)
berita, hendaklah kamu periksa kebenarannya, kalau-kalau kamu mengenai suatu
kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu”.[11]
M. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsir al-Misbah bahwa ayat
diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan sosial
sekaligus ia merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan
pengamalan suatu berita.[12] Ayat
ini menjadi sandaran kita sebagai umat Islam dalam menerima informasi-informasi
yang belum jelas kebenarannya sehingga kita perlu meneliti sebelum kita membuat
tindakan.
Sebagai seorang muslim sepatutnya segala sesuatu kita sandarkan
kepada Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi problematika, hal ini sesuai dengan
ayat ke-7 surat Al-Hujurat :
“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada
Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah
kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan
dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci
kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[13]
Rasulullah
SAW seorang yang maksum, maka Rasulullah terhindar dari perkara buruk
berdasarkan informasi yang tidak benar melalui wahyu Ilahi. Sekarang Rasulullah
SAW sudah tiada, maka kita hendaknya merujuk sumber-sumber wahyu yang
ditinggalkannya secara kaffah (keseluruhan) serta berserah diri kepada Allah.
Sesuai sabda Rasulullah SAW :
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا،
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ
تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (رواه ابو داود)
Artinya
: “Siapa di antara kamu yang masih hidup selepasku (kewafatan Rasulullah
s.a.w) kamu akan saksikan perselisihan yang banyak, maka hendaklah kamu
menuruti sunnahku dan sunnah para khulafa’ ar-rasyidin. Berpegang teguhlah kamu
seerat-eratnya dan gigitlah dengan gigi geraham kamu.” (Riwayat Abi
Daud)
Allah
Maha Mengetahui siapakah di kalangan hamba-Nya yang berhak mendapat petunjuk,
dan siapakah yang disesatkan. Kepada orang yang benar-benar beriman kepada-Nya,
maka Allah menghiasi hati mereka kepada kebenaran, keadilan, kebaikan, dan
benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
Perkembangan IPTEK sangat berpengaruh terhadap kehidupan
masyarakat.Teknologi informasi dan komunikasi memberikan eefektivitas dan
efisiensi yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Proses komunikasi melalui
media massa, seperti radio, televisi, internet, surat kabar, dan semacamnya
dapat mengatasi perbedaan ruang dan waktu antara penyampai pesan dan penerima
pesan.[14]
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi komunikasi melalui media
massa di era seperti sekarang ini tentu dapat mempengaruhi pola pikir
masyarakat. Sayangnya, dinamika informasi yang mengagumkan tersebut cenderung
lepas kontrol. Semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, sama-sama bisa
menikmati informasi yang disediakan oleh media massa, tidak perduli apakah
informasi itu positif atau tidak.[15] di
satu sisi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dalam
perkembangan peradaban manusia, tapi di sisi yang lain juga berdampak langsung
pada dekadensi (kerusakan) norma dan moral kehidupan masyarakat. Setiap terjadi
dekadensi moral masyarakat maka semua pihak akan segera menoleh pada lembaga
pendidikan[16]
dan seakan menuduhnya tidak becus mendidik anak bangsa.[17] Seperti
kasus yang penulis kutip dari media massa seperti contoh kasus yang dituturkan
Masnah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia :
pada tahun
2006, seorang murid kelas 6 SD hamil akibat diperkosa kerabatnya berusia
sebaya. Selain itu, pada tahun yang sama, tiga remaja di Ambon yang masih
berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah
memperkosa anak usia 5 tahun.[18]
Selain itu kerusakan norma dan moral kehidupan masyarakat juga
tercermin pada berita media massa yang penulis kutip berikut ini.
kasus tawuran
antar siswa pada rabu dan kamis—tanggal 29 dan 30 Agustus—lalu berujung
kematian dua pelajar dan satu orang tua di Jakarta Timur. Ini menunjukkan bahwa
norma kehidupan masyarakat telah luntur. Masa depan generasi penerus pun suram
akibat terpengaruh budaya kekerasan. Demikian diutarakan Ketua Komisi Nasional
Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait pada jum’at (31/8).[19]
Uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam yang
berlandaskan pada al-Qur’an seharusnya mampu mengantarkan umat manusia menjadi
manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab, bukan menjadi umat yang
mengalami kemunduran moral.
Berdasarkan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan
pengamalan suatu berita yang terkandung pada surat Al-Hujurat ayat 6 , penulis
tertarik untuk melakukan kajian terhadap kandungan makna pendidikan Islam yang
terdapat dalam Surat Al-Hujurat ayat 6-8 dalam bentuk skripsi yang berjudul “
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 6 - 8”.
Nah sobat blogger, demikian pendahuluannya untuk format lengkapnya silahkan klik disini
atau disini.
[1]
Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Bumi Aksara,
2011), hlm. 16
[2]
Ibid. hlm. 17
[3] Mahmud
Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988), hlm.241
[4] Syaikh
Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam,2008),
hlm. 374
[6]
Mahmud Junus, op.cit. hlm. 6
[7]
Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKiS, 2009), hlm.27
[8]
Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, ( Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra, 2008), hlm. 14
[9] Mahmud
Junus, op.cit. hlm. 256
[10] Ahmad
Tantowi, op. cit, hlm. 16
[11] Mahmud
Junus, op.cit. hlm. 464
[12] M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), hlm.238
[14]
Ahmad Tantowi, op. cit, hlm. 59
[15] Op.cit
[16]
Lembaga pendidikan islam akan lebih disoroti
[17]
Moh. Roqib, op.cit. hlm. 35
[18]
Regina Rukmorini. (2008, 10, April). 100.000 Website Porno Memakai Model
Anak-anak. Kompas. Media Massa. Tersedia:
http://nasional.kompas.com/read/2008/04/10/08502967 (diakses tgl. 14 Nopember
2012)
[19](2012,
1, September). Suram, Masa Depan Generasi Muda. Kompas. Media Massa.
Tersedia: http://nasional.kompas.com/read/2012/09/01/12585994 (diakses tgl. 14
Nopember 2012)
No comments:
Post a Comment