Tuesday, 7 April 2015

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI PENDIDIKAN ISLAM

NILAI – NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TAFSIR AL-QUR’AN
SURAT AL-HUJURAT AYAT 6-8
Penulis : Imam Prayogo, S.

A.    Latar Belakang Masalah
Tidak terbantahkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang urgen bagi proses perkembangan pribadi manusia. Pendidikan adalah proses peralihan dan penyerapan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri manusia dengan jalan penumbuhan dan pengembangan potensi dasar yang dimilikinya yaitu potensi fitrah yang diberikan Allah sejak ia dilahirkan.
Manusia merupakan makhluk paedagogik yaitu makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik.[1] Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan.[2]
Proses pendidikan hakikatnya sebagai usaha untuk membina dan mengembangkan kepribadian dan tingkah laku manusia sehingga sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia menjadi khalifah di bumi.
Oleh karena itu, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan pendidikan. Meskipun manusia sejak lahir membawa potensi fitrah (kebenaran), akan tetapi ia dilahirkan dalam keadaan belum mengetahui apa-apa. Sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 78 :
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? (النحل : ٧٨)  
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu, sedang kamu tiada mengetahui sesuatupun, dan Dia adakan bagimu pendengaran, pengelihatan, dan hati, mudah-mudahan kamu berterimakasih kepada-Nya”. (QS. An-Nahl: 78)[3]

Syaikh Imam Al- Qurthubi menerangkan ayat tersebut dalam tafsirnya “Disebutkan bahwa diantara nikmat-nikmat-Nya adalah dikeluarkannya dirimu dari perut ibumu sebagai bayi dengan kondisi yang tidak berilmu sedikitpun”.[4] Dalam hal ini manusia dilahirkan cenderung membawa sifat kebaikan, meskipun ia tidak memiliki ilmu sedikitpun. Dengan demikian pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi tumbuh kembangnya manusia. Pendidikan merupakan fitrah manusia yang harus terpenuhi. Karena sebagai fitrah pendidikan harus senantiasa disesuaikan dengan fitrah kemanusiaan yang hakiki yakni menyangkut aspek material dan spiritual, aspek keilmuan dan moral, serta aspek duniawi dan ukhrowi.
Islam memandang manusia sebagai mahluk yang mulia, karena ia memiliki ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal (berpikir) dan perasaan tentang sesuatu yang diketahui itu.[5]
Dengan ilmu pengetahuan manusia akan mampu menjalankan kedudukannya sebagai khalifatullah fi al-ardh seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30

“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di atas bumi. Maka jawab mereka itu: Adakah patut Engkau jadikan di atas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tiada kamu ketahui”.[6]

Dalam konteks kedudukan manusia tersebut, khususnya manusia muslim maka pendidikan merupakan proses pertumbuhan manusia dalam segala aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Sehingga membentuk manusia yang berkepribadian muslim yang bertakwa dalam rangka melaksanakan tugas kekhalifahan dan peribadatan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[7]
Agar pendidikan dapat melaksanakan fungsinya sebagai agent of culture dan bermanfaat bagi manusia, maka perlu acuan pokok yang mendasarinya. Karena pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia, yang secara kodrati adalah insan pedagogik, maka acuan yang menjadi dasar bagi pendidikan adalah nilai yang tertinggi dari pandangan hidup suatu masyarakat dimana pendidikan itu dilaksanakan.[8] Pendidikan islam didasari oleh pedoman hidup umat islam yang bersifat transenden dan universal yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Sebagai sumber pedoman bagi umat islam, al-Qur’an mengandung dan membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia dan merupakan petunjuk bagi manusia, seperti pada firman-Nya:
¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 šÏf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x.  ) الأسراء:٩)
“Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjuki (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan (‘amalan) yang saleh; sesungguhnya untuk mereka itu pahala yang besar.”[9]

Karena itu, pelaksanaan pendidikan islam harus senantiasa mengacu pada sumber yang termuat dalam al-Qur’an. Dengan berpegang pada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an—terutama dalam pelaksanaan pendidikan islam—umat islam akan mampu mengarahkan dan mengantarkan umat manusia menjadi kreatif dan dinamis serta mampu mencapai esensi nilai-nilai ubuddiyah kepada penciptanya. Dengan sikap ini, proses pendidikan islam akan senantiasa terarah dan mampu melahirkan output berupa manusia berkualitas  dan bertanggung jawab terhadap semua aktifitas yang dilakukannya.[10] Manusia yang berkualitas yaitu manusia yang bisa membedakan sesuatu yang baik dan buruk berdasarkan pengetahuannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasik (membawa) berita, hendaklah kamu periksa kebenarannya, kalau-kalau kamu mengenai suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu”.[11]

M. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsir al-Misbah bahwa ayat diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan sosial sekaligus ia merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengamalan suatu berita.[12] Ayat ini menjadi sandaran kita sebagai umat Islam dalam menerima informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya sehingga kita perlu meneliti sebelum kita membuat tindakan.
Sebagai seorang muslim sepatutnya segala sesuatu kita sandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi problematika, hal ini sesuai dengan ayat ke-7 surat Al-Hujurat :
    
“dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[13]

Rasulullah SAW seorang yang maksum, maka Rasulullah terhindar dari perkara buruk berdasarkan informasi yang tidak benar melalui wahyu Ilahi. Sekarang Rasulullah SAW sudah tiada, maka kita hendaknya merujuk sumber-sumber wahyu yang ditinggalkannya secara kaffah (keseluruhan) serta berserah diri kepada Allah. Sesuai sabda Rasulullah SAW :
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (رواه ابو داود)
Artinya : “Siapa di antara kamu yang masih hidup selepasku (kewafatan Rasulullah s.a.w) kamu akan saksikan perselisihan yang banyak, maka hendaklah kamu menuruti sunnahku dan sunnah para khulafa’ ar-rasyidin. Berpegang teguhlah kamu seerat-eratnya dan gigitlah dengan gigi geraham kamu.” (Riwayat Abi Daud)

Allah Maha Mengetahui siapakah di kalangan hamba-Nya yang berhak mendapat petunjuk, dan siapakah yang disesatkan. Kepada orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, maka Allah menghiasi hati mereka kepada kebenaran, keadilan, kebaikan, dan benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
Perkembangan IPTEK sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.Teknologi informasi dan komunikasi memberikan eefektivitas dan efisiensi yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Proses komunikasi melalui media massa, seperti radio, televisi, internet, surat kabar, dan semacamnya dapat mengatasi perbedaan ruang dan waktu antara penyampai pesan dan penerima pesan.[14]
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi komunikasi melalui media massa di era seperti sekarang ini tentu dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Sayangnya, dinamika informasi yang mengagumkan tersebut cenderung lepas kontrol. Semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, sama-sama bisa menikmati informasi yang disediakan oleh media massa, tidak perduli apakah informasi itu positif atau tidak.[15] di satu sisi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dalam perkembangan peradaban manusia, tapi di sisi yang lain juga berdampak langsung pada dekadensi (kerusakan) norma dan moral kehidupan masyarakat. Setiap terjadi dekadensi moral masyarakat maka semua pihak akan segera menoleh pada lembaga pendidikan[16] dan seakan menuduhnya tidak becus mendidik anak bangsa.[17] Seperti kasus yang penulis kutip dari media massa seperti contoh kasus yang dituturkan Masnah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia :
pada tahun 2006, seorang murid kelas 6 SD hamil akibat diperkosa kerabatnya berusia sebaya. Selain itu, pada tahun yang sama, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia 5 tahun.[18]

Selain itu kerusakan norma dan moral kehidupan masyarakat juga tercermin pada berita media massa yang penulis kutip berikut ini.
kasus tawuran antar siswa pada rabu dan kamis—tanggal 29 dan 30 Agustus—lalu berujung kematian dua pelajar dan satu orang tua di Jakarta Timur. Ini menunjukkan bahwa norma kehidupan masyarakat telah luntur. Masa depan generasi penerus pun suram akibat terpengaruh budaya kekerasan. Demikian diutarakan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait pada jum’at (31/8).[19]

Uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam yang berlandaskan pada al-Qur’an seharusnya mampu mengantarkan umat manusia menjadi manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab, bukan menjadi umat yang mengalami kemunduran moral.
Berdasarkan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengamalan suatu berita yang terkandung pada surat Al-Hujurat ayat 6 , penulis tertarik untuk melakukan kajian terhadap kandungan makna pendidikan Islam yang terdapat dalam Surat Al-Hujurat ayat 6-8 dalam bentuk skripsi yang berjudul “ Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 6 - 8”.
Nah sobat blogger, demikian pendahuluannya untuk format lengkapnya silahkan klik disini
atau disini.



[1] Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Bumi Aksara, 2011), hlm. 16
[2] Ibid. hlm. 17
[3] Mahmud Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988), hlm.241
[4] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam,2008), hlm. 374
[5] Zakiah Daradjat, dkk., op.cit. hlm.5
[6] Mahmud Junus, op.cit. hlm. 6
[7] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKiS, 2009), hlm.27
[8] Ahmad Tantowi, Pendidikan Islam di Era Transformasi Global, ( Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2008), hlm. 14
[9] Mahmud Junus, op.cit. hlm. 256
[10] Ahmad Tantowi, op. cit, hlm. 16
[11] Mahmud Junus, op.cit. hlm. 464
[12] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), hlm.238
[13] Mahmud Junus, op.cit. hlm. 464
[14] Ahmad Tantowi, op. cit, hlm. 59
[15] Op.cit
[16] Lembaga pendidikan islam akan lebih disoroti
[17] Moh. Roqib, op.cit. hlm. 35
[18] Regina Rukmorini. (2008, 10, April). 100.000 Website Porno Memakai Model Anak-anak. Kompas. Media Massa. Tersedia: http://nasional.kompas.com/read/2008/04/10/08502967 (diakses tgl. 14 Nopember 2012)
[19](2012, 1, September). Suram, Masa Depan Generasi Muda. Kompas. Media Massa. Tersedia: http://nasional.kompas.com/read/2012/09/01/12585994 (diakses tgl. 14 Nopember 2012)

No comments:

Post a Comment