PENDIDIKAN AGAMA ISLAM jadi sorotan?...
Pendidikan Agama Islam sering kali menjadi target kesalahan dari terjadinya dekadensi moral masyarakat, seakan akan semua pihak menuduh bahwa lembaga pendidikan agama Islam tidak becus mendidik anak bangsa. Bangsa Indonesia masih sedang mengalami suasana keprihatinan yang bertubi-tubi. Hasil survey menunjukkan bahwa negeri kita masih bertengger dalam jajaran negara yang paling korup di dunia, KKN melanda di berbagai institusi, disiplin makin longgar semakin meningkatnya tindak kriminal, tindak kekerasan, anarchisme, premanisme, konsumsi minuman keras dan narkoba sudah melanda di kalangan pelajar dan mahasiswa. Masyarakat kita juga cenderung mengarah pada masyarakat kepentingan (gesellscaft), nilai-nilai paguyuban (gemeinscaft) sudah mulai ditinggalkan , yang tampak dipermukaan adalah timbulnya konflik kepentingan-kepentingan, baik kepentingan individu, kelompok, agama, etnis, politik, maupun kepentingan lainnya.
Wal hasil, bangsa Indonesia memang sedang menghadapi krisis multi dimensional. Ini tentunya di lihat dari pelbagai disiplin dan pendekatan, ada kesamaan pandangan bahwasanya ujung pangkal dari segala macam krisis ini adalah krisis akhlak atau krisis moral. Secara langsung atau pun tidak sangat berhubungan dengan persoalan pendidikan. Kontribusi pendidikan dalam konteks ini adalah pada pembangunan mentalitas manusia yang merupakan produknya. Lebih ironi, krisis tersebut menurut sementara pihak disebabkan karena kegagalan pendidikan agama, termasuk di dalamnya pendidikan agama Islam.
Beberapa tokoh pendidikan, seperti Azyumardi Azra agaknya kurang sependapat terhadap tuduhan tersebut dengan menunjukkan kasus-kasus di beberapa negara berdasarkan hasil survey dari International Country Risk Guide Index (ICRGI), sejak tahun 1992 hingga 2000-an. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Kristen, Hindu/Budha atau lainnya banyak yang indeks korupsinya tinggi (di atas 7), seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Rusia, Argentina, Meksiko, Filipina, Kolombia, dan Thailand. Sebaliknya, ada pula negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Kristen, Hindu/Budha atau lainnya seperti Iran, Arab Saudi, AS, Kanada, Inggris dan lain-lain indeks korupsinya rendah.
Bertolak dari hasil survey tersebut dapat di generalisasikan bahwa tolak ukur tinggi atau rendahnya tindak kriminal seperti korupsi, tawuran, pertikaian antar golongan tidak banyak terkait dengan agama, ajaran atau pendidikan agama, tetapi justru lebih disebabkan antara lain:
1. Lemahnya penegakkan hukum (Soft state)
2. Mewabahnya gaya hedonistik
3. kurang adanya political will
Jika krisis akhlak atau moral merupakan pangkal dari krisis multi dimensional, sedangkan pendidikan agama Islam banyak menggarap masalah akhlak sebagai produknya. maka perlu ditelaah apa yang menjadi penyebab titik lemah dari pendidikan agama tersebut.
No comments:
Post a Comment